Translate

Kamis, 06 September 2012

Technical Meeting OSPEK SINTESIS Politeknik Banjarnegara

Alhamdulillah setelah panjangnya libur yang telah terlalui, akhirnya sampai juga di awal masuk semester baru tahun ini. Berbeda dari semester kemarin, awal semester ini ada kegiatan OSPEK atau Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Ya, benar sekali. Awal semester ini ada mahasiswa yang mulai belajar di kampus ini, Politeknik Banjarnegara.

Awal semester baru yang juga bertambah saudara baru, para mahasiswa baru yang akan mulai menghuni kampus. Technical Meeting dilaksanakan tanggal 6 September 2012 di ruang Auditorium Politeknik Banjarnegara. Cukup ramai kelihatannya. seperti kegiatan ospek lainnya, technical meeting yang merupakan step awal OSPEK juga disertai dengan beberapa akting yang dilakukan oleh para panitia yang bertugas.

Semoga kegiatan awal ini mampu mendidik dan mengenalkan kepada mahasiswa baru tentang kondisi kampus.

Mestinya banyak foto yang diambil, tapi sayang hanya satu foto yang ku dapatkan. Seperti tampak dalam foto, kayaknya sedang terjadi proses hukuman di depan akan tetapi tak dapat diambil, karena salah satu panitia tidak memperbolehkan.

thanks. and good luck for next day..
salam sukses luar biasa..

Jumat, 08 Juni 2012

Kegiatan Bersama HIMABID dan KSR Politeknik Banjarnegara

Assalamu’alaikum wr wb



Kali ini aku ingin share kegiatan yang udah aku dan temen-temen selenggarakan dan Alhamdulillah dilakukan pada tanggal 2 Juni 2012. Tentunya kegiatan positif, bukan asal kegiatan,,,hehehe

Kebetulan aku ikut dalam salah satu ukm di sebuah kampus kecil di Banjarnegara. Unit Kegiatan yang aku ikuti itu ukm KSR. Tau donk apa itu KSR? Yap. KSR tuh Korps Suka Rela, katanya si PMRnya tingkat mahasiswa. Aku tertarik dengan ukm ini karena aku pengin jadi relawan yang ikut dalam sebuah evakuasi bencana. Ya…meskipun bencana tidak diinginkan, tapi untuk ikut dan berpartisipasi menolong orang lain, mengapa tidak?
Karena aku ingin bermanfaat bagi orang lain yang ada di sekitarku. Aku ingin jadi manusia yang bermanfaat. Itu aja sih.. hlooo kuq jadi ngelantur gini ya? hehehe maaf maaf..

Oiya sahabat, kembali di awal, aku ikut di ukm ksr. Di ukm ini mempunyai salah satu proker (progam kerja) untuk mengadakan kegiatan donor darah, dan ku pikir bukan sebuah hal yang kebetulan saat ada hima lain yang mempunyai proker yang sama yaitu himabid (himpunan mahasiswa kebidanan).

Jadi kami (ksr dan himabid di duetkan atau dijodohkan gitu..hehehhee) ditugaskan pada peringatan Dies Natalis IV Politeknik Banjarnegara untuk melakukan kegiatan bersama. Tidak hanya donor darah, tapi ada yang lain seperti stand alat kebidanan dan cek golongan darah gratis. Waw..kegiatan yang cukup banyak, tapi karena dikerjakan bersama yang banyak menjadi sediki, yang berat akan jadi ringan,, hehehehe itulah timkerja. Saling membantu untuk mencapai kesuksesan bersama. Yaaa, kurang lebih kayak gitu lah…hehehe
 

 

Tampak dari gambar tersebut, temen-temen sedang mempersiapkan alat kesehatan kebidanan yang diturunkan dari lantai dua. Sedang persiapan, sempet-sempetnya pada narsis saat lagi di foto… wewewew,, obsesi jadi artis ya neng? Hahahhaha


Kemudian.. setelah persiapan selesai, tidak menunggu berapa lama, para pendonor berdatangan untuk mendonorkan darahnya. Jangan lupa makan dulu tu,, biar gak pingsan,,hihihihi

Peserta donor tidak hanya mahasiswa, tapi ada juga dari beberapa instansi luar yang datang. Tak ketinggalan pula para karyawan dan dosen Politeknik Banjarnegara. Tapi sayangnya hanya mendapatkan foto dari salah satu karyawan, saat ada dosen yang donor tidak ada yang berani ambil gambar jadi ya rejeki gak dapet wajah dosen yang sedang donor… hehehee (mohon maaf ya… ?? )




  
Sedangkan di luar, di stand kesehatan dan cek golongan darah juga ramai pengunjung yang hampir keseluruhan adalah mahasiswa. Selain itu, juga Bapak Moch. Sugiarto PhD (Direktur Politeknik) bersedia menengok kegiatan yang sedang dilakukan. Memang pada hari itu terdapat tiga kegiatan sekaligus, jadi kampus lumayan ramai.

Lagi menunjukkan hasil pengujian cek golongan darah. Emmmm,,, itu hasilnya bener g ya? hehehe Santai aja mas, mba, ibu, bapak temen-temen kebidanan Insya Allah sudah bisa mengecek golongan darah. Selain itu, kami juga dibantu pihak PMI, jadi g usah takut dan khawatir ya....???  :)


Lagi mengecek lagi golongan darah, karena tidak percaya. Tapi hasilnya kan sama saja. G usah lebay gitu deh mba Mona..huuuuu 

Mba Laya lagi jaga stand kesehatan. Hayooo,, smsan sama siapa ituh? dijaga tuh alatnya, mbok ada pengunjung yang berkunjung dijelasin sekalian ya...??? :)

Cantikan mana hayooo..orangnya apa tulisannya? ayoooo pada vooting.. :P


Mahasiswa dari prodi agroteknologi pun tidak mau ketinggalan. Beberapa anak agro yang berhasilsaya curi gambarnya sedang mengunjungi stand di kebidanan. Ada yang sedang memencet-mencet boneka bayi. Maklum,  mba retno tris dan mba gadis udah hampir nikah jadi lagi banyak nyari info buat bayinya nanti..hihihihi



 

Selain itu, beberapa anak yang lain juga kelihatan. Tapi lebih banyak si mereka Cuma liat-liat aja, g serius. Coz udah capek tiap hari nyangkul ato ntraktor. Jadi di sini mereka Cuma refreshing sekalian caper dah tu ama yang caem caem.. hihihihi (damai ^^V) 
malahan nampang bareng nich.. heheheww



Alhamdulillah, kegiatan donor dapat selesai pukul 14.30 WIB. Dan segera saja semua yang tidak bekerja melangsungkan pembersihan lobi dan penataan ruang kelas agar rapi seperti semula. Waw, temen-temen bidan memang sangat kompak. Meskipun perempuan, tapi sungguh kesatuannnya tidak dapat diremehkan..ckckckckckckckckckckck

Kata ketua KSRnya gini “ya iyalah, kita kan wonder women..hehe”. Aku menjawab dalam hati “bukannya wonder women tu yang difilm-film itu ya? kalian kan gak masuk film sama sekali? Hahaha”. Maaf ya…hehehe
Ini nih fotonya yang lagi beres beres kalau mau lihat. . .








Yah,,setelah semua bersih. Semua kumpul dulu buat evaluasi.  Tapi Alhamdulillah, semua panitia puas dengan kinerja yang ada. Meski ada sedikit masalah, tapi setelah dihadapi bersama semoga dapat menjadi pembelajaran untuk lebih baik lagi di waktu yang akan datang.

Terima kasih temen-temen Himabid dan KSR terutama bagi ketua dari masing-masing ukm itu. Rizka ama Mila, semoga semua salah anggota dimaafkan ya. ..
Dan untuk semua panitia, semoga apa yang kita lakukan bersama mendapat balasan yang setimpal. Dan bagi para pendonor serta semua pihak yang telah membantu, tidak ada kata lain selain terima kasih kami pada kalian, hanya Allah yang dapat membalas semuanya.

Your Blood to Safe Another Life. Ingat ya, donor darah tu tanda cinta kita pada sesama. Jadi kenapa gak donor kalo kamu punya orang yang kamu cinta? ?
 

Kamis, 07 Juni 2012

Foto Olah Lahan SRI





Foto Kami.. Sebuah Memori yang Nanti akan Dirindukan.. :)




Chheeeessseeeeee......  :)
Foto ini diambil setelah melakukan pengolahan sawah untuk praktek menanam padi, maklum kami adalah mahasiswa D3 Agroteknologi. Jadi, mau tidak mau untuk menjadi mahasiswa yang baik (*sombong banget siicchhh :P) harus melakukan praktek dengan baik dan juga ditambah kotor-kotoran dah. namanya aja anak agro ya mainnya cangkul ama lumpur hehehee. liat aja tuh fotonya, udah pada dekil, kotor, di lahan berlumpur lagi. jiann lengkap banget paljaran disini. dari mulai dikelas sampai praktik langsung di lapangan (SAWAH)..hahahahaha
lahan yang kami garap akan ditanaman padi dengan metode tanam SRI atau Sistem of Rice Intensifikation. apa itu SRI? kapankah dia pulang? hehehee
SRI adalah sistem budidaya padi dengan menggunakan sedikit air. Jadi lahan yang digunakan tidak atau hanya sedikit air tidak banyak air seperti pada proses pertanian padi pada kebanyakan. 

SRI ( System of Rice Intensification ) adalah cara budidaya padi yang pada awalnya diteliti dan dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu di Pulau Madagaskar dimana kondisi  dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Karena kondisi lahan pertanian yang terus menurun kesuburannya, kelangkaan dan harga pupuk kimia yang terus melambung serta suplai air yang terus berkurang dari waktu ke waktu, maka dikembangkanlah metode SRI untuk meningkatkan hasil produksi padi petani Madagaskar pada saat itu,  dengan hasil yang sangat mengagumkan. Saat ini SRI telah berkembang di banyak negara penghasil beras seperti di Thailand, Philipina, India, China, Kamboja, Laos, Srilanka, Peru, Cuba, Brazil, Vietnam dan banyak negara maju lainnya. Melalui presentasinya Prof. Norman Uphoff dari universitas Cornell, USA, pada tahun 1997 di Bogor, SRI diperkenalkan di Indonesia. Dan sejak tahun 2003 penerapan dilapangan oleh para petani kita di Sukabumi, Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan daerah lainnya memberikan lonjakan hasil panen yang luar biasa

Cara budidaya SRI sebenarnya tidak asing bagi para petani Indonesia, karena sebagian besar prosesnya sudah dipahami dan biasa dilakukan. Metoda SRI ini dinamakan bersawah organik dan menghasilkan padi/beras organik karena mulai dari pengolahan lahan, pemupukan hingga penanggulangan serangan hama sama-sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia


Pengembangan metode SRI di Indonesia merupakan salah satu upaya perbaikan lahan tanaman pangan khususnya padi yang ada di Indonesia. Sudah berpuluh tahun lahan pertanian tanaman khususnya padi menggunakan pupuk kimia. Dan kebutuhan yang diperlukan setiap tahun semakin meningkat. maka tidak mengherankan bila dalam beberapa waktu ini kebutuhan pangan di Indonesia harus mengimpor dari rumah tetangga (Negara Tetangga).  (ngomong apa sichhh...??!!! ehehehee)
 

Meskipun padi organik ”SRI” ini merupakan solusi dan masa depan bagi petani, baik petani yang memiliki sawah dan menggarap sendiri atau pemilik sawah dengan petani penggarapnya, tetapi  memang disadari bahwa untuk mengembangkannya tidak mudah. Cukup banyak kendala serta tantangan, baik dari sisi para petani maupun masih kurangnya perhatian dan dukungan pemerintah. Dari sisi petani, selain pemahaman konsep, kultur, kemauan, motivasi serta kerja keras petani yang tidak sama, juga sistem bisnis atau tata niaga baik pada pupuk-pestisida kimia maupun padi atau beras yang sudah berjalan bertahun-tahun menjadi kendala tersendiri. Diperkirakan metoda ”SRI” ini akan memporak porandakan kemapanan sistem bisnis dan tata niaga pupuk dan pestisida kimia, sehingga tidak menutup kemungkinan akan ada pihak-pihak yang merasa terganggu kemapanan bisinisnya oleh metoda ”SRI” ini.

Bagaimanapun  perubahan dan revolusi pertanian tanaman pangan harus dilakukan untuk masa depan bangsa ini, dan dengan niat yang tulus untuk membantu nasib para petani, pemilik sawah serta masa depan pertanian serta  bangsa kita agar tidak terus menerus hanya bisa mengimpor beras saja, kami akan terus mengsosialisasikan metoda SRI kepada para petani dan pemilik sawah. Karena di dunia saat ini ”SRI” sudah berkembang pesat, kami tidak ingin petani dan bangsa ini semakin tertinggal dan bergantung pada bangsa lain dalam hal pengadaan pangannya. Padahal kita memiliki potensi lahan yang lebih subur dibanding negara manapun. Prinsip kami, petani harus sejahtera dan mandiri

Dan Kami Mahasiswa Agroteknologi Politeknik Banjarnegara mendukung perjuangan untuk mensejahterakan petani dengan mengenalkan metode SRI kepada masyarakat petani di Banjarnegara sebagai awalnya.

*Diambil dari BUKU PETUNJUK SRI Padi organik SRI  Cara bertani seksama dan alami ( CBSa )

Selasa, 05 Juni 2012



halooo..
selamat siang..
selamat berjumpa lagi dengan saya, Yogi Yogaz.. :)

hari ini saya akan memulai mengurus blog ini, ya semoga isi yang nanti saya tulis bisa bermanfaat bagi pengunjung semua.. :)
Salam Sukses, Luar Biasa..  !!!!







Minggu, 29 November 2009

Banjarnegara

Asal Mula Kabupaten Banjarnegara



Pendahuluan

Riwayat berdirinya Kabupaten Banjarnegara disebutkan bahwa seorang tokoh masyarakat yang bernama Kyai Maliu sangat tertarik akan keindahan alam di sekitar Kali Merawu selatan jembatan Clangkap. Keindahan tersebut antara lain karena tanahnya berundak, berbanjar sepanjang kali. Sejak saat itu, Kyai Maliu kemudian mendirikan pondok/rumah sebagai tempat tinggal yang baru. Dari hari ke hari kian ramai dengan para pendatang yang kemudian mendirikan rumah disekitar tempat tersebut sehingga membentuk seatu perkampungan. Kemudian perkampungan yang baru dinamai “BANJAR” sesuai dengan daerahnya yang berupa sawah yang berpetak-petak. Atas dasar musyawarah penduduk desa baru tersebut Kyai Maliu diangkat menjadi Petinggi (Kepala desa), sehingga kemudian dikenal dengan nama “Kyai Ageng Maliu Pertinggi Banjar”. Keramian dan kemajuan desa Banjar di bawah kepemimpinan Kyai Ageng Maliu semakin pesat tatkala kedatangan Kanjeng Pangeran Giri Wasiat, Panembahan Giri Pit, dan Nyai Sekati yang sedang mengembara dalam rangka syiar agama Isalam. Ketiganya merupakan putra Sunan Giri, raja di Giri Gajah Gresik yang bergelar Prabu Satmoko. Sejak kedatangan Pengeran Giri Pit, Desa Banjar menjadi pusat pengembangan agama Islam dan menjadi desa Banjar.Karena kepemimpinannya itulah Desa Banjar semakin berkembang dan ramai. Desa Banjar yangdidirikan oleh Kyai Ageng Maliu inilah pada akhirnya menjadi cikal bakal Kabupaten Banjarnegara.(Disadur dari Buku Banjarnegara, Sejarah dan Babadnya,Obyek Wisata dan Seni Budaya yang disusun oleh Drs. Adi Sarwono, disusun kembali oleh Sekretariat Panitia HUT RI dan Hari Jadi ke-175 Banjarnegara 2006).

KABUPATEN BAJAR WATU LEMBU BERDASARKAN SILSILAH DAN SEJARAH BAYUMAS



Setelah Adipati Manguntudo I wafat, disebutkan bahwa pengganti Bupati Banjar Petambakan adalah puteranya yang bergelar R. Ngabehi Mangunyudo II, yang dikenal dengan R. Ngabehi Mangunyudo Sedo Mukti.

Diera kepemimpinannya, Kabupaten dipindahkan ke sebelah Barat Sungai Merawu dengan nama Kabupaten Banjar Watu Lembu Pertama, yang kemudian digantikan oleh puteranya, bergelar Kyai R. Ngabei Mangunyudo III yang kemudian berganti nama menjadi Kyai R. Ngabei Mangunbroto,Bupati Anom Banjar Selolembu. Masih dari sumber yang sama, R. Ngabei Mangunbroto wafat karena bunuh diri.

Pengganti adalah R.T. Mangunsubroto yang memerintah Kabupaten Banjar Watu Lembu (Banjar selo Lembu).

R. Ngabei Mangunyudo II merupakan Bupati Banjar Watu Lembu Pertama, yang kemudian digantikan oleh puteranya, bergelar Kyai R. Ngabei Mangunyudo III yang kemudian berganti nama menjadi Kyai R. Ngabei Mangunyudo, Bupati Anom Banjar Selolembu. Masih dari sumberyang sama R. Ngabei Mangunbroto wafat karena bunuh diri.Penggantinya adalah R.T.Mangunsubroto yang memerintah Kapubaten Banjar Watulembu sampai tahu 1931. Karena Kabupaten Banjar Watulembu sangat antipati terhadap Belanda, setelah perang Diponegoro di mana kemenangan dipihak Belanda, Kabupaten Banjar Watulembu diturunkan statusnya menjadi Distrik dengan dua penguasa yaitu R. Ngabei Mangunsubroto dan R. Ng. Ranudirejo.



KABUPATEN BANJAR WATU LEMBU BERDASARKAN SILSILAH KETURUNAN R. NGABEI BANYAKWIDE



Dalam sumber sejarah disebutkan bahwa yang menggantikan Mangunyudo I adalah R. Ngabehi Kenthol Kertoyudo yang kemudian bergelar R. Ngabehi Mangunyudo II. Dalam perang Diponegoro lebih dikenal dengan R. Tumenggung Kertonegoro III atau Mangunyudo Mukti. Pada masa pemerintahan, Kabupaten dipindahkan ke sebelah Barat Sungai Merawu dan kemudian dinamakan Kabupaten “Banjar Watulembu“.

Sikap Adipati Mangunyudo II yang sangat anti terhadap Belanda dan bahkan turut memperkuat pasukan Diponegoro dalam perang melawan Belanda (di mana perang tersebut berakhir dengan kemenangan di pihak Belanda), berakibat R.Ngabei Mangunyudo II dipecat sebagai Bupati Banjar Watulembu, dan pada saat itu pula status Kabupaten Banjar Watulembu diturunkan menjadi Distrik dengan dua penguasa yaitu R. Ngabei Mangun Broto dan R. Ngabei Ranudirejo. Terlepas sumber yang benar, para pemimpin/Bupati Banjar mulai Mangunyudo I sampai yang terakhir Mangunsubroto atau Mangunyudo II, semua anti penjajah Belanda.



KABUPATEN BANJAR PETAMBAKAN



Kyai Ngabehi Wiroyodo merupakan Bupati Banjar Petambakan pertama yang memerintah pada kurang lebih tahun 1582 (melihat pendirian Pendopo Kabupaten Banyumas di Kejawaran oleh Warga Hutomo II,yang merupakan salah satu pecahan dari Kabupaten Wirasaba tercatat tahun 1582).

Namun siapa pengganti Kyai Ngabei Wiroyudo sampai R. Ngabehi Banyakwide diangkat sebagai Kliwon Banyumas yang bermukim di Banjar Petambakan tidak diketahui, karena tidak ada/belum ditemukan sumber/catatan tertulis. Ada kemungkinan Kabupaten Banjar Petambakan di bawah Kyai Ngabei Wiroyuda tidak berkembang seperti halnya Kabupaten Merden yang diperintah R. Ngabei Wirakusuma.Tidak demikian halnya dengan Kabupaten Banyumas (Daerah Kejawar) di bawah pemerintahan R. Adipati Wargo Hutomo II yang bertahan dan terus berkembang.

R. Banyakwide adalah putra R. Tumenggung Mertoyudan (Bupati Banyumas ke 4). Dari sini terlihat bahwa seama 3 (tiga) periode kepemimpinan Bupati di Kabupaten Banyumas (setelah Wargo Hutomo II) sampai dengan Bupati ke 4 (R.T. Mertoyudo), Kabupaten Banjar Petambakan tidak tercatat ada yang memerintah. Karena cukup lama tidak ada yang memerintah, maka setelah diangkatnya R. Banyakwide sebagai Kliwon Banyumas tetapi bermukim di Banjar Petambakan, ada yang menyebut Banyakwide adalah Bupati Bajar Petambakan Pertama setelah Pemerintahan Ngabehi Wiroyudo.

R. Banyakwide mempunyai 4 (empat) putra, yaitu :



1. Kyai Ngabei Mangunyudo

2. R. Kenthol Kertoyudo

3. R. Bagus Brata

4. Mas Ajeng Basiah



Sepeninggal R. Banyakwide Kabupaten Banjar Petambakan diperintah oleh R. Ngabei Mangunyudo I yang kemudian dikenal dengan julukan Hadipati Mangunyudo sedo Loji (Benteng), karena beliau gugur di loji saat perang melawan Belanda di Kertosuro.

Kebenciannya terhadap Belanda ditunjukan sewaktu ada geger perang Pracino (pecinan) yaitu pemberontakan oleh bangsa Tionghoa kepada VOC saat Mataram dipimpin Paku Buwono II.

R. Ngabehi Mangunyudo I sebagai Bupati manca minta ijin untuk menghancurkan Loji VOC di Kertasura. Paku Buwono II mengijinkan dengan satu permintaan agar R. Ngabehi Mangunyudo tidak membunuh pasangan suami istri orang Belanda yang berada di Loji paling atas.

Akhirnya perangpun terjadi antara prajurit Mangunyudo I dengan pasukan VOC (tahun 1743). Melihat prajuritnya banyak yang tewas, Adipati Mangunyudo I marah, seluruh penghuni Loji dibunuhnya, bahkan beliu lupa pesan Sri Susuhunan Pakubuwono II. Melihat masih ada orang Belanda yang masih hidup di bagian atas Loji, maka R.Mangunyudo I mengejar dan berusaha membunuh pasangan suami istri orang Belanda, yang sebenarnya adalah Pakubowono II dan Permasuri yang sedang menyamar. Merasa terancam jiwanya, Pakubuwono II akhirnya membunuh Adipati Mangunyudo I yang sedang kalap di Loji VOC tersebut. Sebab itulah kemudian Adipati Mangunyudo I dikenal dengan sebutan Adipati Mangunyudo Sedo Loji.



KABUPATEN BANJARNEGARA



Karena selama perang Diponegoro dapat mengatasi pasukan Pangeran Diponegoro yang dibantu oleh pasukan dari Kabupaten Banjarwatulembu yang dibantu oleh pasukan Kabupaten (pada waktu itu terdapat ikatan perjanjian dengan Ngabei di Purbolinggo dan kemudian diangkat menjadi Tumenggung selama 25 tahun, oleh Belanda diusulkan menjadi Bupati Banjar ( Banjar Watulembu). Setelah mendapat ijin, maka berdasarkan Resolutie Governeur General Buitenzorg tanggal 22 Agustus 1831 Nomor I, maka Raden Tumenggung Dipoyudho IV resmi menjabat Bupati Banjar Watulembu.

Beberapa saat setelah pengangkatannya, Raden Tumenggung Dipoyudho IV meminta ijin kepada Paku Buwana VII di Kasunanan Surakarta untuk memindahkan kota kabupaten ke sebelah selatan Sungai Serayu. Setelah permintaan tersebut dikabulkan, maka dimulailah pembangunan kota kabupaten yang semula berupa daerah persawahan. Untuk mengenang asal mulai Kota Kabupaten baru yang berupa persawahan dan telah dibangun menjadi kota, oleh Raden Tumenggung Dipoyudho IV, Kabupaten Baru tersebut diberi nama “BANJARNEGARA” ( mempunyai maksud Sawah=Banjar, berubah menjadi kota=negara ) sampai sekarang. Setelah segala sesuatu siap, Raden Tumenggung Dipoyudo IV sebagai Bupati beserta semua pegawai Kabupaten pindah dari Banjar Watulembu ke kota yang baru Banjarnegara. Dikarenakan pada saat pengangkatannya status Kabupaten Bajar Watulembu yang terdahulu telah dihapus, maka Raden Tumenggung Dipoyudho IV dikenal sebagai Bupati Banjarnegara I (Pertama). Peristiwa Pengangkatan Raden Tumenggung Dipoyudho IV pada tanggal 22 Agustus 1831 sebagai Bupati Banjarnegara inilah yang dijadikan dasar untuk menetapkan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara, yaitu dengan Keputusan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara tanggal 1 Juli 1981 dan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Banjarnegara Nomor 3 Tahun 1994 Tentang Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara.